Jumat, 03 Mei 2019

makalah bani abasiyyah

Tidak ada komentar:

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Islam adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. dan disebarkan dijazirah Arab yang diawali dengan sembunyi-sembunyi. Setelah pengikut agama Islam telah banyak dari keluarga terdekat Nabi dan sahabat maka turun perintah Allah untuk menyebarkan Islam secara terang-terangan. Namun dalam penyebarannya tidak berjalan mulus, Rasulullah dalam menyebarkan Islam mendapatkan tantangan dari suku Quraisy . Islam disebarkan dan dipertahankan dengan harta dan jiwa oleh para penganutnya yang setia membela Islam meski harus dengan pertumpahan darah dalam peperangan.
Setelah Rasullah wafat, kepemimpinan Islam dipegang oleh khulafaur Rasyidin. Pada perkembangannya Islam mengalami banyak kemajuan maju. Islam telah disebarkan secara meluas keseluruh wilayah Arab. Pada masa khulafaur Rasyidin Al-Quran telah dibukukan dalam bentuk mushaf yang dikenal dengan mushaf utsmani.
Meskipun Islam telah berkembang’ namun juga banyak mendapat tantangan dari luar dan dalam Islam sendiri. Seperti pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib banyak terjadi pemberontakan didaerah hingga peperangan. Salahsatu perang dimasa Ali bin Abi Thalib ialah peperangan Muawiyah dengan khalifah Ali bin Abi Thalib yang menghasilkan abitrase, sehingga Muawiyah menggantikan posisi Ali bin Abi Thalib. Dampak yang ditimbulkan dari abitrase ini adalah pengikut dari Ali bin Abi Thalib ingin membunuh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah karena dianggap telah kafir dan halal dibunuh. Dalam rencana pembunuhan ini, hanya Ali bin Abi Thalib yang berhasil dibunuh.
Setelah kematian Ali bin Abi Thalib, maka berakhirlah masa Khulafaur Rasyidin dan berganti dengan pemerintahan Dinasti Umayyah dibawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sofwan. Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah, Islam semakin berkembang dalam segala aspek hingga perluasan daerah kekuasaan.
Setelah pemerintahan Dinasti Umayyah, digantikan oleh pemerintahan dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti kedua dalam sejarah pemerintahan umat Islam. Abbasiyah dinisbatkan kepada al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW, Berdirinya dinasti ini sebagai bentuk dukungan terhadap pandangan yang diserukan oleh Bani Hasyim setelh wafatnya Rasulullah SAW. yaitu menyandarrkan khilafah kepada keluarga Rasul dan kerabatnya.
Berdasar  dari keterangan diatas, maka penulis tertarik untuk membahas sejarah terbentuknya pemerintahan Dinati Abbasiyah hingga mundurnya pemerintahan ini dalam bentuk makalah.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka pemakalah dapat menarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Asal-usul Pertumbuhan dan Perkembangan Bani Abasiyyah?
2.      Perkembangan Politik dan Pemerintahan Islam Bani Abasiyyah?
3.      Perkembangan dan Puncak Peradaban Islam Bani Abasiyyah?
4.      Sebab-sebab Kemunduran dan Kehancuran Bani Abasiyyah?

C.  Tujuan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka pemakalah dapat menarik tujuan masalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui Asal-usul Pertumbuhan dan Perkembangan Bani Abasiyyah
2.      Mengetahui Perkembangan Politik dan Pemerintahan Islam Bani Abasiyyah
3.      Mengetahui Perkembangan dan Puncak Peradaban Islam Bani Abasiyyah
4.      Mengetahui Sebab-sebab Kemunduran dan Kehancuran Bani Abasiyyah.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Asal-Usul Pertumbuhan dan Perkembangan Bani Abasiyah
Dinasti Abbasiyah mewarisi kekuasaan dari Dinasti Umayyah. Hasil besar yang telah dicapai oleh Dinasti Abbasiyah dimungkinkan karena landasannya telah di persiapkan oleh Umayyah dan Abbasiyah memanfaatkannya.[1]
Dinasti Abbasiyah berkedudukan di Bagdad. Secara turun temurun kurang lebih tiga puluh tujuh khalifah pernah berkuasa di negeri ini. Pada dinasti ini  Islam mencapai puncak kejayaannya dalam segala bidang.
Pemerintahan Abbasiyyah adalah keturunan daripada al-Abbas, paman Nabi SAW. Pendiri kerajaan al-Abbas ialah Abdullah as-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas, dan pendiriannya dianggap suatu kemenangan bagi ide yang dianjurkan oleh kalangan Bani Hasyim setelah kewafatan Rasulullah SAW, agar jabatan khalifah diserahkan kepada keluarga Rasul dan sanak-saudaranya.[2]
Kekuasaan dinasti Bani Abbasiyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M). Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
1.      Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
2.      Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama.
3.      Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4.      Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
5.      Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.[3]
Dinasti Abbasiyah berkedudukan mencapai keberhasilannya disebabkan dasar-dasarnya telah berakar semenjak Umayyah berkuasa. Ditinjau dari proses pembentukkanya, Dinasti Abbasiyah didirikan atas dasar-dasar antara lain:
1.       Dasar kesatuan untuk menghadapi perpecahan yang timbul di dinasti sebelumnya.
2.       Dasar universal (bersifat universal), tidak terlandaskan atas kesukuan.
3.       Dasar politik dan administrasi menyeluruh, tidak diangkat atas dasar keningratan.
4.       Dasar kesamaan hubungan dalam hukum bagi setiap masyarakat Islam.
5.       Pemerintahan bersifat Muslim moderat, ras Arab hanyalah dipandang sebagai salah satu bagian saja di antara ras-ras lain.
6.       Hak memerintah sebagai ahli waris nabi masih tetap di tangan mereka.[4]
Di antara situasi-situasi yang mendorong berdirinya Dinasti Abbasiyah dan menjadi lemah dinasti sebelumnya adalah :
1.       Timbulnya pertentangan politik antara Muawiyah dengan pengikut Ali bin Abi Thalib.
2.       Munculnya golongan Khawarij, akibat pertentangan politik antara Muawiyah dengan Syiah, dan kebijakan-kebijakan land reform yang kurang adil.
3.       Timbulnya politik penyelesaian khilafah dan konflik dengan cara damai.
4.       Adanya dasar penafsiran bahwa keputusan politik harus didasarkan pada Alquran dan oleh golongan Khawarij orang Islam non-Arab.
5.       Adanya konsep hijrah di mana setiap orang harus bergabung dengan golongan Khawarij yang tidak bergabung dianggapnya sebagai orang yang berada pada dar al-harb, dan hanya golongan khawarijlah yang berada pada dar al-Islam.
6.       Bertambah gigihnya perlawanan pengikut Syiah terhadap Umayyah setelah terbunuhnya Husein bin Ali dalam pertempuran Karbala.
7.       Munculnya paham mawali, yaitu paham tentang perbedaan antara orang Islam Arab dengan non-Arab.[5]
Secara kronologis, nama Abbasiyah menunjukkan nenek moyang dari Al-Abbas, Ali bin Abi Thalib dan Nabi Muhammad. Hal ini menunjukkan kedekatan pertalian keluarga antara Bani Abbas dengan nabi. Itulah sebabnya kedua keturunan ini sama-sama mengklaim bahwa jabatan Khalifah harus berada di tangan mereka. Keluarga Abbas mengklaim bahwa setelah wafatnya Rasulullah merekalah yang merupakan penerus dan penyambung keluarga Rasul.[6]
Perjuangan Bani Abbas secara intensif baru dimulai berkisar antara lima tahun menjelang Revolusi Abbasiyah. Pelopor utamanya adalah Muhammad bin Ali Al-Abbas di Hamimah. Ia telah banyak belajar dari kegagalan yang telah dialami oleh pengikut Ali (kaum Syiah)dalam melawan Dinasti Umayyah. Kegagalan ini terjadi karena kurang terorganisasi dan kurangnya perencanaan. Dari itulah Muhammad bin Ali Al-Abbas mengatur pergerakannya secara rapid an terencana. Ia mulai melakukan pergerakannya dengan langkah-langkah awal yang penting. Kemudian propaganda atau langkah itu berhasil membakar semangat api kebencian umat Islam kepada Dinasti Umayyah.
Setelah Muhammad bin Ali meninggal tahun 734 M, perjuangan dilanjutkan oleh saudaranya Ibrahim sampai tahun 749 M. Kemudian, sejak 749 M Ibrahim menyerahkan pucuk pimpinan kepada keponakannya, Abdullah bin Muhammad. Pada masa inilah revolusi Abbasiyah berlangsung.
Abdullah bin Muhammad alias Abul Al-Abbas diumumkan sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah tahun 750 M. Dalam khutbah pelantikan yang disampaikan di Masjid Kufah, ia menyebut dirinya dengan Al-Saffah (penumpah darah) yang akhirnya menjadi julukannya. Hal ini sebenarnya menjadi permulaan yang kurang baik diawal berdirinya dinasti ini, dimana kekuatannya tergantung kepada pembunuhan yang ia jadikan sebagai kebijaksanaan politiknya.
Al-Saffah berusaha dengan berbagai cara untuk membasmi keluarga Umayyah. Antara lain dengan kekuatan senjata. Ia mengumpulkan tentaranya dan melantik pamannya sendiri Abdullaah bin Ali sebagai pimpinannya. Target utama mereka adalah menyerang pusat kekuatan Dinasti Umayyah di Damaskus, sekaligus untuk melenyapkan Khalifah Marwan (khalifah terakhir Bani Umayyah). Pertempuran terjadi di lembah Sungai Az-zab (Tigris). Pada pertempuran itu Marwan mengalami kekalahan dan mengundurkan diri ke Utara Syria, Him, Damsyik, Palestina dan akhiirnya sampai ke Mesir. Pasukan Abdullah bin Ali terus menyerangnya hingga terjadi lagi pertempuran di Mesir dan Marwan pun tewas.
Usaha lain yang dilakukan Al-Saffah untuk memusnahkan keluarga Umayyah adalah dengan cara mengundang lebih kurang 90 orang anggota keluarga Umayyah untuk menghadiri suatu upacara perjamuan kemudian membunuh mereka dengan cara yang kejam. Disamping itu agen-agen dan mata-mata disebarkan ke seluruh imperium untuk memburu para pelarian seluruh anggota keluarga Umayyah. Hanya satu orang saja yang berhasil melarikan diri kemudian kelak mendirikan Dinasti Umayyah di Andalusia. Ia dikenal dengan sebutan Abdurahman Ad-Dakhil.
Perlakuan kejam itu tidak hanya pada anggota keluarga yang masih hidup, tetapi juga yang sudah meninggal. Kuburan-kuburan mereka dibongkar dan jenazahnya dibakar. Ada dua kuburan saja yang selamat dari kekejamannya yaitu kuburan Muawiyah bin Abu Sufyan dan Umar bin Abdul Aziz . perlakuan-perlakuan kejam itu tentu saja tentu saja telah menimbulkan kemarahan para pendukung Dinasti Umayyah di Damaskus, tetapi mereka berhasil ditumpas oleh Abbasiyah.
Abu Al-Abbas hanya memerintah dalam kurun waktu singkat, yakni empat tahun. Oleh karena itu, ia kehilangan jati dirinya. Kehidupannya yang dikenal dalam sejarah pertama-tama hanyalah sebagai pembasmi Dinasti Umayyah.
Abu Abbas Al-Saffah meninggal tahun 754 M. dan digantikan oleh saudaranya, Abu Jafar Al-Mansur dari tahun 754-774 M. Dialah sebenarnya yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah. Dia tetap melanjutkan kebijaksanaan Al-Saffah yakni menindak tegas setiap orang yang menentang kekuasaannya, termasuk juga dari kalangan keluarganya sendiri.
Sifat dan watak Al-Mansur dikenal oleh para penulis sejarah sebagai seorang politikus yang demoktratis, peemberani, cerdas, teliti, disiplin, kuat beribadah, sederhana, fasih dalam berbicara, sangat dekat dan memperhatikan kepentingaan rakyat. Oleh karena itu, tidaklah mengerankan bahwa selama lebih kurang 20 tahun kekuasaannya, ia telah berhasil meletakkan landasan yang kuat dan kokoh bagi kehidupan dan kelanjutan kekuasaan Dinasti Abbasiyah itu.[7]
B.     Perkembangan Politik dan Pemerintahan Islam
1.      Perkembangan Politik
Sejarah telah mengukir bahwa pada masa Dinasti Abbasiyah, umat Islam benar-benar berada di puncak kejayaan dan memimpin peradaban dunia saat itu. Masa pemerintahan ini merupakan golden age dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, terutama pada masa Khalifah Al-Makmun.
Daulat Abbasiyah berkuasa kurang lebih selama lima abad (750-1258 M). pemerintahan yang panjang tersebut dapat dibagi dalam dua periode. Periode I adalah masa antara tahun 750-945 M, yaitu mulai pemerintahan Abu Abbas sampai Al-Mustakfi. Periode II adalah masa antara tahun 945-1258 M, yaitu masa Al-Mu’ti sampai Al-Mu’tasim. Pembagian periodisasi ini diasumsikan bahwa pada periode pertama, perkembangan di berbagai bidang  masih menunjukkan grafik vertikal, stabil dan dinamis. Sedangkan pada periode II, kejayaan terus merosot sampai datangnya pasukan Tartar yang berhasil menghancurkan Dinasti Abbasiyah.
Pada masa pemerintahan Abbasiyah periode I, kebijakan-kebijakan politik yang dikembangkan antara lain:
a.       Memindahkan ibukota negara dari Damaskus ke Bagdad
b.      Memusnahkan keturunan Bani Umayyah
c.       Merangkul orang-orang Persia, dalam rangka politik memperkuat diri, Abbasiyah memberi peluang dan kesempatan yang besar kepada kaum mawali
d.      Menumpas pemberontakan-pemberontakan
e.       Menghapus politik kasta
Selain kebijakan-kebijakan di atas, langkah-langkah lain yang diambil dalam program politiknya adalah :
a.       Para Khalifah tetap dari Arab, sementara para menteri, gubernur, panglima perang dan pegawai lainnya banyak diangkat dari golongan Mawali
b.      Kota Bagdad ditetapkan sebagai ibukota Negara dan menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi dan kebudayaan
c.       Kebebasan berpikir dan berpendapat mendapat porsi yang tinggi.
Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Dinasti Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh wazir (perdana menteri) yang jabatannya disebut wizaraat. Wizaraat ini dibagi menjadi 2 yaitu: pertama, wizaraat tafwid (memliki otoritas penuh dan tak terbatas), waziraat ini memiliki kedaulatan penuh kecuali menunjuk penggantinya. Kedua, wizaraat tanfidz (memiliki kekuasaan eksekutif saja) wizaraat ini tidak memiliki inisiatif selain melaksanakan perintah khalifah dan mengikuti arahannya.
Pada masa pemerintahan Abbasiyah II, kekuasaan politik mulai menurun dan terus menurun, terutama kekuasaan politik pusat. Karena negara-negara bagian sudah tidak begitu mempedulikan lagi pemerintahan pusat, kecuali pengakuan secara politis saja.[8]
2.      Pemerintahan Islam
Model pemerintahan yang diterapkan oleh Abasiyyah bisa dikatakan asimilasi dari berbagai unsur. Ini terlihat jelas dari adanya periodesasi atau tahapan pemerintahan Abasiyyah. Ciri-ciri yang menonjol pada masa pemerintahan Abasiyyah yang tidak terdapat di zaman Umayyah adalah :[9]
a.       Dengan berpindahnya ibu kota ke Bagdad, pemerintah Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh arab, sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abaasiyyah, pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat, dan pada periode kedua dan keempat bangsa turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini.
b.      Dalam penyelenggaraan negara, pada Bani Abbasiyyah jabatan wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah.
c.       Ketentaraan profesional baru terbentuk pada maasa pemerintahan Bani Abbas, sebelumnya belum ada tentara yang profesional.












Perbedaan dan persamaan model pemerintahan masa dinasti Bani Abasiyyah dan Bani Umayyah dapat dilihat dalam tebel berikut ini :[10]


Persamaan
Abasiyyah
Umayyah
Menetapkan Sistem Warisan Pada Proses Pemilihan Khalifah

Perbedaan
1.  1. Adanya unsur non Arab dalam sistem pemerintahannya-adanya pengaruh Persi dan Turki
2.  2. Semakin komplitnya struktur pemerintahan
3.  3. Profesionalisme tentara mulai tertata
11. Adanya dominasi unsur Arab
  2. Sangat terbatas karena lebih fokus pada upaya ekspansi
3 3. Belum tertata secara profesional dalam bidang ketentaraan

3.      Biro-Biro Pemerintahan pada masa Bani Abasiyyah
a.       Diwanul Kitaabah (Sekretaris Negara) yang tugasnya menjalankan tata usaha Negara.
b.      Nidhamul Idary al-Markazy yaitu sentralisasi wilayah dengan cara wilayah jajahan dibagi dalam beberapa propinsi yang dinamakan Imaarat, dengan gubernurnya yang bergelar Amir atau Hakim. Kepala daerah hanya diberikan hak otonomi terbatas; yang mendapat otonomi penuh adalah “al-Qura” atau desa dengan kepala desa yang bergelar Syaikh al-Qariyah. Hal ini jelas untuk membatasi kewenangan kepala daerah agar tidak menyusun pasukan untuk melawan Baghdad.
c.       Amirul Umara yaitu panglima besar angkatan perang Islam untuk menggantikan posisi khalifah dalam keadaan darurat.
d.      Memperluas fungsi Baitul Maal, dengan cara membentuk tiga dewan; Diwanul Khazaanah untuk mengurusi keuangan Negara, Diwanul al-Azra’u untuk mengurusi kekayaan Negara dan Diwan Khazaainus Sila, untuk mengurus perlengkapan angkatan perang.
e.       Organisasi kehakiman, Qiwan Qadlil Qudha (Mahkamah Agung), dan al-Sutrah al-Qadlaiyah (jabatan kejaksaan), Qudhah al-Aqaalim (hakim propinsi yang mengetuai Pengadilan Tinggi), serta Qudlah al-Amsaar (hakim kota yang mengetuai Pengadilan Negeri).[11]
f.       Diwan al-Tawqi, dewan korespondensi atau kantor arsip yang menangani semua surat-surat resmi, dokumen politik serta instruksi ketetapan khalifah, dewan penyelidik keluhan departemen kepolisian dan pos.
g.      Diwan al-nazhar fi al mazhalim, dewan penyelidik keluhan adalah jenis pengadilan tingkat banding, atau pengadilan tinggi untuk menangani kasus-kasus yang diputuskan secara keliru pada departemen administratif politik.
h.      Diwan al-syurthah, departemen kepolisian yang dikepalai oleh seorang pejabat tinggi yang diangkat sebagai shahih al syurthah yang berperan sebagai kepala polisi dan kepala keamanan istana.
i.        Diwan al-barid, departemen pos, yang dikepalai oleh seorang pejabat yang disebut shahih al-barid, tugas departemen pos tidak terbatas pada memberikan layanan terbatas untuk surat-surat pribadi akan tetapi juga dimanfaatkan untuk mengantar para gubernur yang baru dipilih ke provinsi mereka masing-masing, juga untuk mengangkut tentara dan barang bawaannya.[12]
C.    Perkembangan dan Puncak Peradaban Islam
Bentuk-bentuk peradaban islam di masa bani Abassiyah dapat di bagi menjadi beberapa bentuk yakni pemuan dan tokoh-tokohnya.
1.    Kota-kota pusat peradaban
a.    Baghad,merupakan kota yang paling indah yang di kerjakan oleh lebih dari 100.000 pekerja di pimpin a yang berada dipsat kota dinamai “Qashrul Zahab” yang berukuran luas 160.000 hasta,asrama pengawal,rumah kepala polisi danrumah-rumah khalifah.
b.    Samarra,letaknya disebelah timur sampai Tigris,60 km dari kota Baghad, kotanya nyaman,indah dan teratur.
2.    Bangunan-bangunan
a.    Madrasah, didirikan pertama kali pada masa perdana mentri Niszhamut Mulk.terdapat di kota Baghad, Balkan, Muro, Tabrisan, Naisabur, Hara, Isfahan, Mausil, Basrah,dan kota-kota lainya.
b.    Kuttab,yaitu tempat belajar bagi belajar tingkat rendah dan menengah.
c.    Masjid,biasanya di pakai untuk belajar  untuk tingkat tinggi dan khusus.
d.    Majelis Munadharah, tempat pertemuan para pujangga, ahli  fakir dan para sarjana untuk menseminarkan masalah-masalah ilmiah.
e.    Baitul  Hikmah, merupakan perpustakan pusat yang di bangun khalifah Harun Ar Rasid.
f.     Masjid Raja Kordova,di bangun pada tahun 786M.
g.    Masjid Ibnu Toulon, di kairo dibangun pada tahun 786M.
h.    Istana Al-Hamra di kordova.
i.      Istana Al-Cazar, dan lain-lain

3.    Penemuan-penemuan dan tokoh-tokohnya
a.      Ilmu Filsafat
1)      Alkinidi (Kufah . 185 H / 801 M-Baghad,256 H / 869 M), Ia membagi filsafat menjadi tiga bagian,yaitu ilmu fisika (AL-tabiat)sebagai tingkat oaling bawah,Ilmu matematika (Al-riyad)sebagai tingkat tengah.dan ilmu teologi (Al-uluhiyat)sebagai tingkat tertinggi.
2)      Al farabi (Farab,257 H/ 870 M – Aleppo, 339 H/ 950 M), Karyanya yang  terpenting adalah Agradal-Kitab ma ba da at-Tabih (Intisari buku metafisika)
3)      Ibnu Rasyd (cordoba,1126 M-Marrakech,maroko,1198 )karyanya yaitu kitab Al kulliat (Buku tentang filsafat),dan lain-lain.
b.    Bidang Kedokteran
1)    Ibnu sina (Bukhara, 370 H/980 M-hamdan,428 H/ 1037 M), Karyanya antara lain buku Al Kanun fi at –Tibb (Dasar –dasr kedoktoran) dan Asy Syfah (penyemuhan)
2)    Abu Bakara Razy (Persia,251 H-865 M / 320 H-925 M)karyanya yang paling terkenal adalah Al-judari wa Al hasabah (penyakit  cacar dan campak).
3)    Hunain bin Ishaq ,( 194 H- 264 H = 810-878 M ), ahli mata yang mata yang terkenal.
c.    Bidang matematika.
1)    Banu nusa,menulis  banyak buku dan ilmu ukur.
2)    Al kuarizmi, pengarang kitab Al gebra ( Al jabar ) dan penemu angka nol.
3)    Umar Al Furkhan, Insinyur arsitek pembangunan kota baghad.
4)    Abu wafa Muhamad, karyanya Ma yahtaju llaihil Umal al kuttab min shanatil hisab.
5)    asbit bin kurrah,karyanya antara lain hisabul ahillah, kitabul arad dan kitab fi istikhroji Masailil Handasiyah.
d.    Bidang Astronomi
1)    Al fazari,seorang pencipta astrolabe,yaitu alat pengukur tinggi dan jarak bintang-bintang.
2)    Muhammad bin jabir Al battan,pengarang kitab marifati mathli buruj baina arbail falak.
3)     Al farghoni, membangun beberapa observatium di kota baghad maupun di yunde shahpur.
e.    Bidang farmasi dan kimia
1)    Jabir bin hayyan, (wafat tahun 161 H = 778 M ),di anggap sebagai bapak ilmu kimia.
2)    Ibnu Bathar, Karyanya antara lain jami mufradatil adwiyah wal Aghziyah, mizhanut thabib dan Al Mughaini.
3)    Rasyidudin ibnu  Shawary, karyanya yakni Al  adwiyatul Mufradah.

f.     Bidang sejarah
1)    At tahabari ( Persia,838 M – Baghad, 933 M )karyanya yang sangat terkenal yakni akhbar ar rusul wa  al muluk (sejarah para utusan dan para raja ).
2)    Ibnu Khaldun ( Tunis, 27  Mei 1332 M ), karya monumentalnya  yaitu  Al muqahdimah (pengantar).
3)      Ibnu Su`ud, dengan karyanya yakni At Thabaqatul kubra.
g.    Ilmu Bumi
1)    Ibnu batuta (Afrika utara ,1304 – 1378 M), menjelajai bumi dengan berjalan kaki,karyanya yakni monumental yakni Tuhfa An Nusus fi Garaibi al Amsar wa ajaib al asar (Mutiara teks dalam keajaiban perkataan ulama).
2)    Ahmad bin Fadlan, karyanya yakni Rihla ibnu fadlan.
h.    Ilmu tasawuf
1)    Al gazali  ( 450 – 505 H / 1058 -19 desember 1111 M ),karyanya antara lain kitab maqasid  al – falasyfah  (tujuan para filosof) dan ihya ulum ad din ( Menghidupkan ilmu – ilmu agama ).
2)    Al Hallaj ( Iran, 244 H / 858 M, Baghad,24 Zulkaida 309 H / 26  maret 922 M ) Ajaranya yang terkenal yakni hulul.
i.       Ilmu Fikih
1)      Imam Malik ( madinah, 94 H / 769 M, Madinah,179 H / 795 M ) kitab fikih karangan beliau yakni Al muwata.
2)    Imam Hanafi ( Kufah, 80 H / 699 M – Baghad, 150 H / 767 M) karyanya yang terkenal yakni Al fara`id ( bagian-bagian ).
3)    Imam Syafi`I ( Gaza, 150 H / 767 M-Fustat, cairo, 204 H, 20 januari 820 M ) karya – karya terkenal beliau  antara lain ar risalah ( ilmi – ilmu ushul fikih ) dan buku al Umm ( buku induk ).
4)    Imam Hambali ( Baghad, 164 /780 M-241 H/855M )kitabnya di beri nama Musnad.
j.       Ilmu Tafsir pada masa ini terdiri dari
1)    Tafsir bil Ma`tsur, yaitu Al Qur`an yang di tafsirkan dengan hadits – hadits. Ulama _ulama tafsir ini adalah :Ibnu Jarir At thabary , Ibnu Atahiyah al andalusi, as suda.
2)    Tafsir bir Ro`yi, yaitu Tafsir Al Qur`an dengan menggunakan akal pikiran,Ulama-ulama tafsir ini antara lain : Abu bakar asam,Abu muslim Muhammad ibnu bahar al Ishafani,Ibnu jaru Al asdy dan abu yunus Darussalam.
k.     Ilmu Hadits
1)    Imam Al bukhari ( Bukhara, 194 H – Baghad, 256 H ),karya terkenal beliau yakni Al jami`ush shahih yang di kenal dengan nama “ shahih al Bukhari “.
2)      Imam Muslim ( wafat tahun 261 H ),karyanya yang terkenal yakni “ shahih Muslim “.
3)    Ibnu Majah ( wafat tahun 273 H ),karya terkenal beliau yaitu “ sunan Ibnu majah “.
4)    Abu Daud ( wafat tahun 275 H ),karya terkenal beliau yaitu “ sunan Abu daud “.
5)    An nasa`I ( 2184 H – 303 H ),karya beliau yang terkenal yaitu “ Sunan An nasa`I “.
6)    At Turmadzi, karyanya terkenal yaitu “ sunan At Turmudzi.
l.      Ilmu kalam
1)    Jabariyah, tokohnya zahm bin sofyan,ya`du bin dirhan.
2)    Qodariyah,tokohnya ghilan Al Dhimasyah,Ma`bad Al juhaini.
3)    Mu`tazilah, tokohnya washil bin atha
4)    Ahlus sunnah, tokohnya Abu hasan Al asy`ari, Al Ghozali.
m.   Ilmu Bahasa
1)    Sibawaihi ( wafat tahun 183 H )
2)    Al kisai ( wafat tahun 198 H )
3)    Abu Zakariya Al Fara ( wafat tahun 208 H)
4.    Dalam bidang Peradaban
Masa Abbasiyah menjadi tonggak puncak peradaban Islam. Khalifah-khalifah Bani Abbasiyah secara terbuka mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan dengan mendatangkan naskah-naskah kuno dari berbagai pusat peradaban sebelumnya untuk kemudian diterjemahkan, diadaptasi dan diterapkan di dunia Islam. Para ulama’ muslim yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan baik agama maupun non agama juga muncul pada masa ini. Pesatnya perkembangan peradaban juga didukung oleh kemajuan ekonomi yang menjadi penghubung dunia timur dan barat. Stabilitas politik yang relatif baik terutama pada masa Abbasiyah awal ini juga menjadi pemicu kemajuan peradaban Islam.
5.    Perkembangan Ekonomi
Ekonomi Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan. Sudah terdapat berbagai macam industri seperti kain linen di mesir, sutra dari syiria dan irak, kertas dari samarkand, serta berbagai produk pertanian seperti gandum dari mesir dan kurma dari iraq. Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain.
Karena industralisasi yang muncul di perkotaan ini, urbanisasi tak dapat dibendung lagi. Selain itu, perdagangan barang tambang juga semarak. Emas yang ditambang dari Nubia dan Sudan Barat melambungkan perekonomian Abbasiyah.
Perdagangan dengan wilayah-wilayah lain merupakan hal yang sangat penting. Secara bersamaan dengan kemajuan Daulah Abbasiyah, Dinasti Tang di Cina juga mengalami masa puncak kejayaan sehingga hubungan erdagangan antara keduanya menambah semaraknya kegiatan perdagangan dunia.
6.    Gerakan penerjemahan
Meski kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak Daulah Umayyah, upaya untuk menerjemahkan dan menskrinsip berbahasa asing terutama bahasa yunani dan Persia ke dalam bahasa arab mengalami masa keemasan pada masa DaulahAbbasiyah. Para ilmuandiutus ke daeah Bizantium untuk mencari naskah-naskah yunanidalam berbagai ilmu terutama filasafat dan kedokteran. Sedangkan perburuan manuskrip di daerah timur seperti Persia adalah terutama dalam bidang tata Negara dan sastra.
Pelopor gerakan penerjemahan pada awal pemerintahan daulah Abbasiyah adalah Khalifah Al-Mansyur yang juga membangun Ibu kota Baghdad. Pada awal penerjemahan, naskah yang diterjemahkan terutama dalambidang astrologi, kimia dan kedokteran. Kemudiannaskah-naskahfilsafat karya Aristoteles dan Plato juga diterjemahkan. Dalam masa keemasan, karya yang banyak diterjemahkan tentang ilmu-ilmu pramatis seperti kedokteran. Naskah astronomi dan matematika juga diterjemahkan namun, karya-karya berupa puisi, drama, cerpen dan sejarah jarang diterjemakan karena bidang ini dianggap kurang bermanfa’at dan dalam hal bahasa,arab sendiri perkembangan ilmu-ilmu ini sudah sangat maju.
-       Baitul hikmah
Baitul hikmah merupakan perpustakaan yangberfungsi sebagai pusat pengembagan ilmu pengetahuan.
-       Pada masa harun ar-rasyid
 Institusi ini bernama Khizanahal-Hikmah (Khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian.
-       Pada masa al-ma’mun
Lembaga ini dikembangkan sejak tahun 815 M dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah, yang dipergunakan secara lebihmaju yaitu sebagaitempatpenyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium, dan bahkan dari Ethiopia dan India. Direktur perpustakaannya seorang nasionalis Persia dan ahli pahlewi, Sahl Ibn Harun. Di bawah kekuasaan Al-Ma’mun, lembaga ini sebagai perpustakaan juga sebagai pusat kegiatan study dan riset astronomi dan matematika.
D.    Sebab-Sebab Kemunduran dan Kehancuran Bani Abasiyyah
1.      Keruntuhan dari segi internal ( dari dalam )
a.       Mayoritas kholifah Abbasyiah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadi dan melalaikan tugas dan kewajiban mereka terhadap negara.
b.      Luasnya wilayah kekuasaan kerajaan Abbasyiah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukuan.
c.       Semakin kuatnya pengaruh keturunan Turki, mengakibatkan kelompok Arab dan Persia menaruh kecemburuan atas posisi mereka.
d.      Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
e.       Permusuhan antar kelompok suku dan kelompok agama.
f.       Merajalelanya korupsi dikalangan pejabat kerajaan.
g.      Fanatisme pada golongan dan suku.
2.      Keruntuhan dari segi eksternal (dari luar)
a.       Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang dan menelan banyak korban.
b.      Penyerbuan Tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan yang menghancrkan Baghdad. Jatuhnya Baghdad oleh Hukagu Khan menanndai berakhirnya kerajaan Abbasyiah dan muncul: Kerajaan Syafawiah di Iran, Kerajaan Usmani di Turki, dan Kerajaan Mughal di India.















BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dinamakan khilafah bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasanya adalah keturunan al Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas.
Pada periode pertama pemerintahan bani Abbas mencapai masa keemasannya.Secara politis, khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik meskipun filsafat dan ilmu ilmu pengetahuan terus berkembang.
Pada mulanya ibu kota negera adalah al-Hasyimiyah dekat kufah. Namun untuk lebih memantapkan dan menjaga setabilitas Negara al-Mansyur memindahkan ibu kota Negara ke Bagdad.
Dengan demikian pusat pemerintahan dinasti Abasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Al-Mansyur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator departemen, dia juga menbentuk protokol Negara, sekertaris, dan kepolisian Negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Jawatan pos yang sudah ada ditingkatkan peranannya dari mengatar surat sampai menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar.
Puncak perkembangan dinasti Abbasiyah tidak seluruhnya berawal dari kreatifitas penguasa Bani Abbasiyah sendiri. Sebagian diantaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan misalnya di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Namun lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abas dengan berdirinya perpustakaan dan akademi.
Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat antara lain al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Al-Farabi menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika, dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibnu Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat diantaranya adalah As-Syifa'.
B.  Analisis
Dari penjelasan di atas kita sebagai umat Islam dapat mengambil pelajaran. Sebuah sistem yang teratur akan menghasilkan pencapaian tujuan yang maksimal, seperti kisah pendirian dinasti Abbasiyah. Mereka bisa mendirikan dinasti di dalam sebuah negara yang dikuasai suatu dinasti yang menomorduakan mereka. Selain itu dari sejarah kekuasaan dinasti Abbasiyah ini kita juga bisa mengambil manfaat yang bisa kita rasakan sampai saat ini, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan. Seharusnya kita yang hidup pada zaman modern bisa meneruskan perjuangan para ilmuwan zaman daulah Abbasiyah dahulu.
Sebaliknya, kita juga dapat belajar dari kekurangan-kekurangan yang ada pada dinasti besar ini agar tidak sampai terjadi pada diri kita dan anak cucu kita. Mereka telah dibutakan oleh kekuasaan, sehingga mereka tega membantai hampir seluruh keluarga dinasti Umayyah yang notabenya adalah sesama umat Islam. Selain itu kecerobohan yang terjadi pada masa dinasti Umayyah terulang lagi pada masa dinasti Abbasiyah yang menyebabkan runtuhnya kekuasaan dinasti Abbasiyah. Kebiasaan penguasa berfoya-foya menyebabkan runtuhnya kekuasaan yang telah susah payah mereka dirikan.
C.  Saran
Semoga makalah ini bisa di bahas dan di pelajari serta menjadi suatu motivasi belajar yang mendorong mahasiswa untuk membaca dan sekaligus memahami isi dari makalah, dan kepada kita selaku penyusunnya supaya bisa bermanfaat di kemudian hari.



DAFTAR PUSTAKA
Ali, 1996. Sejarah Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Mufrodi, Ali, 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Surabaya : Logos Wacana Ilmu.
Thohir, Ajid, 2004. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam.  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Syalabi, 1997. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta : PT Alhusna Zikra.
Yatim, Badri, 2003. Sejarah Perdaban Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.



[1] Drs. Ajid Thohir, M.Ag, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam , cet. I,  2004, hal. 44
[2] Prof. Dr. A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 3, cet. IX, 1997,  hlm. 1
[3] Dr. Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, cet. XIV, 2003, hlm. 49
[4] Drs. Ajid Thohir, M.Ag, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam , cet. I,  2004, hal. 44
[5] Drs. Ajid Thohir, M.Ag, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam , cet. I,  2004, hal. 4
[6] Drs. Ajid Thohir, M.Ag, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam , cet. I,  2004, hal. 46
[7] Drs. Ajid Thohir, M.Ag, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam , cet. I,  2004, hal. 48
[8] Philip K. Hitti, History Of The Arabs (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta 2010) 398
[9] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 2000) 54
[10] Istianah Abubakar, Strategi Peradaban Islam Untuk Perguruan Tinggi Islam Dan Umum (Malang: UIN Malang Press 2008) 71
[11] Suluk Lembayunk, Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah (http:///www.blog.html, diakses pada tanggal 19 Oktober 2011)
[12] Philip K. Hitti, History Of The Arabs 401-403

Tidak ada komentar:

Posting Komentar