BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah
SAW. dan disebarkan dijazirah Arab yang diawali dengan sembunyi-sembunyi.
Setelah pengikut agama Islam telah banyak dari keluarga terdekat Nabi dan
sahabat maka turun perintah Allah untuk menyebarkan Islam secara
terang-terangan. Namun dalam penyebarannya tidak berjalan mulus, Rasulullah
dalam menyebarkan Islam mendapatkan tantangan dari suku Quraisy . Islam
disebarkan dan dipertahankan dengan harta dan jiwa oleh para penganutnya yang
setia membela Islam meski harus dengan pertumpahan darah dalam peperangan.
Setelah Rasullah wafat, kepemimpinan Islam
dipegang oleh khulafaur Rasyidin. Pada perkembangannya Islam mengalami banyak
kemajuan maju. Islam telah disebarkan secara meluas keseluruh wilayah Arab.
Pada masa khulafaur Rasyidin Al-Quran telah dibukukan dalam bentuk mushaf yang
dikenal dengan mushaf utsmani.
Meskipun Islam telah berkembang’ namun juga banyak
mendapat tantangan dari luar dan dalam Islam sendiri. Seperti pada masa
khalifah Ali bin Abi Thalib banyak terjadi pemberontakan didaerah hingga
peperangan. Salahsatu perang dimasa Ali bin Abi Thalib ialah peperangan
Muawiyah dengan khalifah Ali bin Abi Thalib yang menghasilkan abitrase,
sehingga Muawiyah menggantikan posisi Ali bin Abi Thalib. Dampak yang
ditimbulkan dari abitrase ini adalah pengikut dari Ali bin Abi Thalib ingin
membunuh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah karena dianggap telah kafir dan halal
dibunuh. Dalam rencana pembunuhan ini, hanya Ali bin Abi Thalib yang berhasil
dibunuh.
Setelah kematian Ali bin Abi Thalib, maka
berakhirlah masa Khulafaur Rasyidin dan berganti dengan pemerintahan Dinasti
Umayyah dibawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sofwan. Pada masa pemerintahan
Dinasti Umayyah, Islam semakin berkembang dalam segala aspek hingga perluasan
daerah kekuasaan.
Setelah pemerintahan Dinasti Umayyah, digantikan
oleh pemerintahan dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti kedua
dalam sejarah pemerintahan umat Islam. Abbasiyah dinisbatkan kepada al-Abbas
paman Nabi Muhammad SAW, Berdirinya dinasti ini sebagai bentuk dukungan
terhadap pandangan yang diserukan oleh Bani Hasyim setelh wafatnya Rasulullah
SAW. yaitu menyandarrkan khilafah kepada keluarga Rasul dan kerabatnya.
Berdasar
dari keterangan diatas, maka penulis tertarik untuk membahas sejarah
terbentuknya pemerintahan Dinati Abbasiyah hingga mundurnya pemerintahan ini
dalam bentuk makalah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka pemakalah dapat menarik
rumusan masalah sebagai berikut:
1. Asal-usul Pertumbuhan
dan Perkembangan Bani Abasiyyah?
2. Perkembangan Politik
dan Pemerintahan Islam Bani Abasiyyah?
3. Perkembangan dan
Puncak Peradaban Islam Bani Abasiyyah?
4. Sebab-sebab Kemunduran
dan Kehancuran Bani Abasiyyah?
C. Tujuan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka pemakalah dapat menarik
tujuan masalah sebagai berikut:
1. Mengetahui
Asal-usul Pertumbuhan dan Perkembangan Bani Abasiyyah
2.
Mengetahui
Perkembangan Politik dan Pemerintahan Islam Bani Abasiyyah
3. Mengetahui Perkembangan
dan Puncak Peradaban Islam Bani Abasiyyah
4. Mengetahui Sebab-sebab
Kemunduran dan Kehancuran Bani Abasiyyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Asal-Usul Pertumbuhan dan Perkembangan Bani Abasiyah
Dinasti
Abbasiyah mewarisi kekuasaan dari Dinasti Umayyah. Hasil besar yang telah dicapai oleh Dinasti
Abbasiyah dimungkinkan karena landasannya telah di persiapkan oleh Umayyah dan
Abbasiyah memanfaatkannya.[1]
Dinasti
Abbasiyah berkedudukan di Bagdad. Secara turun temurun kurang lebih tiga puluh
tujuh khalifah pernah berkuasa di negeri ini. Pada dinasti ini Islam
mencapai puncak kejayaannya dalam segala bidang.
Pemerintahan Abbasiyyah adalah keturunan daripada al-Abbas, paman
Nabi SAW. Pendiri kerajaan al-Abbas ialah Abdullah as-Saffah bin Muhammad bin
Ali bin Abdullah bin al-Abbas, dan pendiriannya dianggap suatu kemenangan bagi
ide yang dianjurkan oleh kalangan Bani Hasyim setelah kewafatan Rasulullah SAW,
agar jabatan khalifah diserahkan kepada keluarga Rasul dan sanak-saudaranya.[2]
Kekuasaan
dinasti Bani Abbasiyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti
Bani Umayyah. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari
tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M). Selama dinasti ini berkuasa, pola
pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik,
sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan Bani Abbas menjadi
lima periode:
1.
Periode
Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
2.
Periode
Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama.
3.
Periode
Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam
pemerintahan khilafah Abbasiyyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia
kedua.
4.
Periode
Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti
Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyyah; biasanya disebut juga
dengan masa pengaruh Turki kedua.
5.
Periode
Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti
lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.[3]
Dinasti Abbasiyah berkedudukan mencapai keberhasilannya disebabkan
dasar-dasarnya telah berakar semenjak Umayyah berkuasa. Ditinjau dari proses
pembentukkanya, Dinasti Abbasiyah didirikan atas dasar-dasar antara lain:
1.
Dasar
kesatuan untuk menghadapi perpecahan yang timbul di dinasti sebelumnya.
2.
Dasar
universal (bersifat universal), tidak terlandaskan atas kesukuan.
3.
Dasar
politik dan administrasi menyeluruh, tidak diangkat atas dasar keningratan.
4.
Dasar
kesamaan hubungan dalam hukum bagi setiap masyarakat Islam.
5.
Pemerintahan
bersifat Muslim moderat, ras Arab hanyalah dipandang sebagai salah satu bagian
saja di antara ras-ras lain.
Di antara situasi-situasi yang mendorong berdirinya Dinasti
Abbasiyah dan menjadi lemah dinasti sebelumnya adalah :
1.
Timbulnya
pertentangan politik antara Muawiyah dengan pengikut Ali bin Abi Thalib.
2.
Munculnya
golongan Khawarij, akibat pertentangan politik antara Muawiyah dengan Syiah,
dan kebijakan-kebijakan land reform yang kurang adil.
3.
Timbulnya
politik penyelesaian khilafah dan konflik dengan cara damai.
4.
Adanya
dasar penafsiran bahwa keputusan politik harus didasarkan pada Alquran dan oleh
golongan Khawarij orang Islam non-Arab.
5.
Adanya
konsep hijrah di mana setiap orang harus bergabung dengan golongan Khawarij
yang tidak bergabung dianggapnya sebagai orang yang berada pada dar al-harb,
dan hanya golongan khawarijlah yang berada pada dar al-Islam.
6.
Bertambah
gigihnya perlawanan pengikut Syiah terhadap Umayyah setelah terbunuhnya Husein
bin Ali dalam pertempuran Karbala.
7.
Munculnya
paham mawali, yaitu paham tentang perbedaan antara orang Islam Arab
dengan non-Arab.[5]
Secara kronologis, nama Abbasiyah menunjukkan nenek moyang dari
Al-Abbas, Ali bin Abi Thalib dan Nabi Muhammad. Hal ini menunjukkan kedekatan
pertalian keluarga antara Bani Abbas dengan nabi. Itulah sebabnya kedua
keturunan ini sama-sama mengklaim bahwa jabatan Khalifah harus berada di tangan
mereka. Keluarga Abbas mengklaim bahwa setelah wafatnya Rasulullah merekalah
yang merupakan penerus dan penyambung keluarga Rasul.[6]
Perjuangan Bani Abbas secara intensif baru dimulai berkisar antara
lima tahun menjelang Revolusi Abbasiyah. Pelopor utamanya adalah Muhammad bin
Ali Al-Abbas di Hamimah. Ia telah banyak belajar dari kegagalan yang telah
dialami oleh pengikut Ali (kaum Syiah)dalam melawan Dinasti Umayyah. Kegagalan
ini terjadi karena kurang terorganisasi dan kurangnya perencanaan. Dari itulah
Muhammad bin Ali Al-Abbas mengatur pergerakannya secara rapid an terencana. Ia
mulai melakukan pergerakannya dengan langkah-langkah awal yang penting.
Kemudian propaganda atau langkah itu berhasil membakar semangat api kebencian
umat Islam kepada Dinasti Umayyah.
Setelah Muhammad bin Ali meninggal tahun 734 M, perjuangan
dilanjutkan oleh saudaranya Ibrahim sampai tahun 749 M. Kemudian, sejak 749 M
Ibrahim menyerahkan pucuk pimpinan kepada keponakannya, Abdullah bin Muhammad.
Pada masa inilah revolusi Abbasiyah berlangsung.
Abdullah bin Muhammad alias Abul Al-Abbas diumumkan sebagai
khalifah pertama Dinasti Abbasiyah tahun 750 M. Dalam khutbah pelantikan yang
disampaikan di Masjid Kufah, ia menyebut dirinya dengan Al-Saffah
(penumpah darah) yang akhirnya menjadi julukannya. Hal ini sebenarnya menjadi
permulaan yang kurang baik diawal berdirinya dinasti ini, dimana kekuatannya
tergantung kepada pembunuhan yang ia jadikan sebagai kebijaksanaan politiknya.
Al-Saffah berusaha dengan berbagai cara untuk membasmi keluarga
Umayyah. Antara lain dengan kekuatan senjata. Ia mengumpulkan tentaranya dan
melantik pamannya sendiri Abdullaah bin Ali sebagai pimpinannya. Target utama
mereka adalah menyerang pusat kekuatan Dinasti Umayyah di Damaskus, sekaligus
untuk melenyapkan Khalifah Marwan (khalifah terakhir Bani Umayyah). Pertempuran
terjadi di lembah Sungai Az-zab (Tigris). Pada pertempuran itu Marwan mengalami
kekalahan dan mengundurkan diri ke Utara Syria, Him, Damsyik, Palestina dan
akhiirnya sampai ke Mesir. Pasukan Abdullah bin Ali terus menyerangnya hingga
terjadi lagi pertempuran di Mesir dan Marwan pun tewas.
Usaha lain yang dilakukan Al-Saffah untuk memusnahkan keluarga
Umayyah adalah dengan cara mengundang lebih kurang 90 orang anggota keluarga
Umayyah untuk menghadiri suatu upacara perjamuan kemudian membunuh mereka
dengan cara yang kejam. Disamping itu agen-agen dan mata-mata disebarkan ke
seluruh imperium untuk memburu para pelarian seluruh anggota keluarga Umayyah.
Hanya satu orang saja yang berhasil melarikan diri kemudian kelak mendirikan
Dinasti Umayyah di Andalusia. Ia dikenal dengan sebutan Abdurahman Ad-Dakhil.
Perlakuan kejam itu tidak hanya pada anggota keluarga yang masih
hidup, tetapi juga yang sudah meninggal. Kuburan-kuburan mereka dibongkar dan
jenazahnya dibakar. Ada dua kuburan saja yang selamat dari kekejamannya yaitu
kuburan Muawiyah bin Abu Sufyan dan Umar bin Abdul Aziz . perlakuan-perlakuan
kejam itu tentu saja tentu saja telah menimbulkan kemarahan para pendukung
Dinasti Umayyah di Damaskus, tetapi mereka berhasil ditumpas oleh Abbasiyah.
Abu Al-Abbas hanya memerintah dalam kurun waktu singkat, yakni
empat tahun. Oleh karena itu, ia kehilangan jati dirinya. Kehidupannya yang
dikenal dalam sejarah pertama-tama hanyalah sebagai pembasmi Dinasti Umayyah.
Abu Abbas Al-Saffah meninggal tahun 754 M. dan digantikan oleh
saudaranya, Abu Jafar Al-Mansur dari tahun 754-774 M. Dialah sebenarnya yang
dianggap sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah. Dia tetap melanjutkan kebijaksanaan
Al-Saffah yakni menindak tegas setiap orang yang menentang kekuasaannya,
termasuk juga dari kalangan keluarganya sendiri.
Sifat dan watak Al-Mansur dikenal oleh para penulis sejarah
sebagai seorang politikus yang demoktratis, peemberani, cerdas, teliti,
disiplin, kuat beribadah, sederhana, fasih dalam berbicara, sangat dekat dan
memperhatikan kepentingaan rakyat. Oleh karena itu, tidaklah mengerankan bahwa
selama lebih kurang 20 tahun kekuasaannya, ia telah berhasil meletakkan
landasan yang kuat dan kokoh bagi kehidupan dan kelanjutan kekuasaan Dinasti
Abbasiyah itu.[7]
B. Perkembangan Politik dan Pemerintahan Islam
1.
Perkembangan Politik
Sejarah telah mengukir bahwa pada masa
Dinasti Abbasiyah, umat Islam benar-benar berada di puncak kejayaan dan
memimpin peradaban dunia saat itu. Masa pemerintahan ini merupakan golden
age dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, terutama pada masa Khalifah
Al-Makmun.
Daulat Abbasiyah
berkuasa kurang lebih selama lima abad (750-1258 M). pemerintahan yang panjang
tersebut dapat dibagi dalam dua periode. Periode I adalah masa antara tahun
750-945 M, yaitu mulai pemerintahan Abu Abbas sampai Al-Mustakfi. Periode II
adalah masa antara tahun 945-1258 M, yaitu masa Al-Mu’ti sampai Al-Mu’tasim.
Pembagian periodisasi ini diasumsikan bahwa pada periode pertama, perkembangan
di berbagai bidang masih menunjukkan grafik vertikal, stabil dan dinamis.
Sedangkan pada periode II, kejayaan terus merosot sampai datangnya pasukan
Tartar yang berhasil menghancurkan Dinasti Abbasiyah.
Pada masa pemerintahan
Abbasiyah periode I, kebijakan-kebijakan politik yang dikembangkan antara lain:
a.
Memindahkan
ibukota negara dari Damaskus ke Bagdad
b.
Memusnahkan
keturunan Bani Umayyah
c.
Merangkul
orang-orang Persia, dalam rangka politik memperkuat diri, Abbasiyah memberi
peluang dan kesempatan yang besar kepada kaum mawali
d.
Menumpas
pemberontakan-pemberontakan
e.
Menghapus
politik kasta
Selain kebijakan-kebijakan di atas, langkah-langkah lain yang
diambil dalam program politiknya adalah :
a.
Para
Khalifah tetap dari Arab, sementara para menteri, gubernur, panglima perang dan
pegawai lainnya banyak diangkat dari golongan Mawali
b.
Kota
Bagdad ditetapkan sebagai ibukota Negara dan menjadi pusat kegiatan politik,
ekonomi dan kebudayaan
c.
Kebebasan
berpikir dan berpendapat mendapat porsi yang tinggi.
Dalam
menjalankan pemerintahan, Khalifah Dinasti Bani Abbasiyah pada waktu itu
dibantu oleh wazir (perdana menteri) yang jabatannya disebut wizaraat.
Wizaraat ini dibagi menjadi 2 yaitu: pertama, wizaraat tafwid (memliki
otoritas penuh dan tak terbatas), waziraat ini memiliki kedaulatan penuh
kecuali menunjuk penggantinya. Kedua, wizaraat tanfidz (memiliki
kekuasaan eksekutif saja) wizaraat ini tidak memiliki inisiatif selain
melaksanakan perintah khalifah dan mengikuti arahannya.
Pada masa pemerintahan Abbasiyah II, kekuasaan politik mulai
menurun dan terus menurun, terutama kekuasaan politik pusat. Karena
negara-negara bagian sudah tidak begitu mempedulikan lagi pemerintahan pusat,
kecuali pengakuan secara politis saja.[8]
2.
Pemerintahan Islam
Model
pemerintahan yang diterapkan oleh Abasiyyah bisa dikatakan asimilasi dari
berbagai unsur. Ini terlihat jelas dari adanya periodesasi atau tahapan
pemerintahan Abasiyyah. Ciri-ciri yang menonjol pada masa pemerintahan
Abasiyyah yang tidak terdapat di zaman Umayyah adalah :[9]
a.
Dengan
berpindahnya ibu kota ke Bagdad, pemerintah Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh
arab, sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab. Dalam
periode pertama dan ketiga pemerintahan Abaasiyyah, pengaruh kebudayaan Persia
sangat kuat, dan pada periode kedua dan keempat bangsa turki sangat dominan
dalam politik dan pemerintahan dinasti ini.
b.
Dalam
penyelenggaraan negara, pada Bani Abbasiyyah jabatan wazir, yang membawahi
kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani
Umayyah.
c.
Ketentaraan
profesional baru terbentuk pada maasa pemerintahan Bani Abbas, sebelumnya belum
ada tentara yang profesional.
Perbedaan dan
persamaan model pemerintahan masa dinasti Bani Abasiyyah dan Bani Umayyah dapat
dilihat dalam tebel berikut ini
:[10]
|
Persamaan
|
Abasiyyah
|
Umayyah
|
|
Menetapkan Sistem Warisan Pada Proses Pemilihan Khalifah
|
||
|
Perbedaan
|
1. 1.
Adanya unsur non Arab dalam sistem pemerintahannya-adanya pengaruh Persi dan
Turki
2. 2.
Semakin komplitnya struktur pemerintahan
3. 3.
Profesionalisme tentara mulai tertata
|
11. Adanya
dominasi unsur Arab
2. Sangat terbatas karena lebih fokus pada
upaya ekspansi
3 3. Belum
tertata secara profesional dalam bidang ketentaraan
|
3.
Biro-Biro Pemerintahan pada masa Bani Abasiyyah
a.
Diwanul Kitaabah (Sekretaris
Negara) yang tugasnya menjalankan tata usaha Negara.
b.
Nidhamul Idary al-Markazy
yaitu sentralisasi wilayah dengan cara wilayah jajahan dibagi dalam beberapa
propinsi yang dinamakan Imaarat, dengan gubernurnya yang bergelar Amir
atau Hakim. Kepala daerah hanya diberikan hak otonomi terbatas; yang
mendapat otonomi penuh adalah “al-Qura” atau desa dengan kepala desa
yang bergelar Syaikh al-Qariyah. Hal ini jelas untuk membatasi
kewenangan kepala daerah agar tidak menyusun pasukan untuk melawan Baghdad.
c.
Amirul Umara yaitu panglima besar
angkatan perang Islam untuk menggantikan posisi khalifah dalam keadaan darurat.
d.
Memperluas
fungsi Baitul Maal, dengan cara membentuk tiga dewan; Diwanul
Khazaanah untuk mengurusi keuangan Negara, Diwanul al-Azra’u untuk
mengurusi kekayaan Negara dan Diwan Khazaainus Sila, untuk mengurus
perlengkapan angkatan perang.
e.
Organisasi
kehakiman, Qiwan Qadlil Qudha (Mahkamah Agung), dan al-Sutrah
al-Qadlaiyah (jabatan kejaksaan), Qudhah al-Aqaalim (hakim
propinsi yang mengetuai Pengadilan Tinggi), serta Qudlah al-Amsaar
(hakim kota yang mengetuai Pengadilan Negeri).[11]
f.
Diwan al-Tawqi, dewan
korespondensi atau kantor arsip yang menangani semua surat-surat resmi, dokumen
politik serta instruksi ketetapan khalifah, dewan penyelidik keluhan departemen
kepolisian dan pos.
g.
Diwan al-nazhar
fi al mazhalim, dewan penyelidik keluhan adalah
jenis pengadilan tingkat banding, atau pengadilan tinggi untuk menangani
kasus-kasus yang diputuskan secara keliru pada departemen administratif
politik.
h.
Diwan
al-syurthah, departemen kepolisian yang dikepalai
oleh seorang pejabat tinggi yang diangkat sebagai shahih al syurthah
yang berperan sebagai kepala polisi dan kepala keamanan istana.
i.
Diwan al-barid,
departemen pos, yang dikepalai oleh seorang pejabat yang disebut shahih
al-barid, tugas departemen pos tidak terbatas pada memberikan
layanan terbatas untuk surat-surat pribadi akan tetapi juga dimanfaatkan untuk
mengantar para gubernur yang baru dipilih ke provinsi mereka masing-masing,
juga untuk mengangkut tentara dan barang bawaannya.[12]
C. Perkembangan dan Puncak Peradaban Islam
Bentuk-bentuk
peradaban islam di masa bani Abassiyah dapat di bagi menjadi beberapa bentuk
yakni pemuan
dan tokoh-tokohnya.
1. Kota-kota pusat peradaban
a. Baghad,merupakan
kota yang paling indah yang di kerjakan oleh lebih dari 100.000 pekerja di
pimpin a yang berada dipsat kota dinamai “Qashrul Zahab” yang berukuran luas
160.000 hasta,asrama pengawal,rumah kepala polisi danrumah-rumah khalifah.
b. Samarra,letaknya
disebelah timur sampai Tigris,60 km dari kota Baghad, kotanya nyaman,indah dan
teratur.
2. Bangunan-bangunan
a. Madrasah,
didirikan pertama kali pada masa perdana mentri Niszhamut Mulk.terdapat di kota
Baghad, Balkan, Muro, Tabrisan, Naisabur, Hara, Isfahan, Mausil, Basrah,dan
kota-kota lainya.
b. Kuttab,yaitu
tempat belajar bagi belajar tingkat rendah dan menengah.
c. Masjid,biasanya
di pakai untuk belajar untuk tingkat tinggi dan khusus.
d. Majelis
Munadharah, tempat pertemuan para pujangga, ahli fakir dan para sarjana
untuk menseminarkan masalah-masalah ilmiah.
e. Baitul
Hikmah, merupakan perpustakan pusat yang di bangun khalifah Harun Ar Rasid.
f. Masjid
Raja Kordova,di bangun pada tahun 786M.
g. Masjid
Ibnu Toulon, di kairo dibangun pada tahun 786M.
h. Istana
Al-Hamra di kordova.
i.
Istana Al-Cazar,
dan lain-lain
3. Penemuan-penemuan dan tokoh-tokohnya
a. Ilmu Filsafat
1)
Alkinidi (Kufah . 185 H / 801
M-Baghad,256 H / 869 M), Ia membagi filsafat
menjadi tiga bagian,yaitu ilmu fisika (AL-tabiat)sebagai tingkat oaling
bawah,Ilmu matematika (Al-riyad)sebagai tingkat tengah.dan ilmu teologi
(Al-uluhiyat)sebagai tingkat tertinggi.
2)
Al farabi
(Farab,257 H/ 870 M – Aleppo, 339 H/ 950 M), Karyanya yang terpenting
adalah Agradal-Kitab ma ba da at-Tabih (Intisari buku metafisika)
3) Ibnu Rasyd
(cordoba,1126 M-Marrakech,maroko,1198 )karyanya yaitu kitab Al kulliat (Buku
tentang filsafat),dan lain-lain.
b. Bidang Kedokteran
1) Ibnu sina (Bukhara, 370
H/980 M-hamdan,428 H/ 1037 M), Karyanya antara lain
buku Al Kanun fi at –Tibb (Dasar –dasr kedoktoran) dan Asy Syfah (penyemuhan)
2) Abu Bakara Razy (Persia,251 H-865 M / 320 H-925
M)karyanya yang paling terkenal adalah Al-judari wa Al hasabah (penyakit
cacar dan campak).
3) Hunain bin Ishaq ,( 194
H- 264 H = 810-878 M ), ahli mata yang mata yang terkenal.
c. Bidang matematika.
1) Banu nusa,menulis
banyak buku dan ilmu
ukur.
2) Al kuarizmi, pengarang kitab Al gebra ( Al jabar )
dan penemu angka nol.
3) Umar Al Furkhan,
Insinyur arsitek pembangunan kota baghad.
4) Abu wafa Muhamad,
karyanya Ma yahtaju llaihil Umal al kuttab min shanatil hisab.
5) asbit bin
kurrah,karyanya antara lain hisabul ahillah, kitabul arad dan kitab fi
istikhroji Masailil Handasiyah.
d. Bidang Astronomi
1) Al fazari,seorang
pencipta astrolabe,yaitu alat pengukur tinggi dan jarak bintang-bintang.
2) Muhammad bin jabir Al
battan,pengarang kitab marifati mathli buruj baina arbail falak.
3) Al farghoni,
membangun beberapa observatium di kota baghad maupun di yunde shahpur.
e. Bidang farmasi dan kimia
1) Jabir bin hayyan,
(wafat tahun 161 H = 778 M ),di anggap sebagai bapak ilmu kimia.
2) Ibnu Bathar, Karyanya
antara lain jami mufradatil adwiyah wal Aghziyah, mizhanut thabib dan Al
Mughaini.
3) Rasyidudin ibnu
Shawary, karyanya yakni Al adwiyatul Mufradah.
f. Bidang sejarah
1) At tahabari (
Persia,838 M – Baghad, 933 M )karyanya yang sangat terkenal yakni akhbar ar
rusul wa al muluk (sejarah para utusan dan para raja ).
2) Ibnu Khaldun ( Tunis,
27 Mei 1332 M ), karya monumentalnya yaitu Al muqahdimah
(pengantar).
3) Ibnu Su`ud,
dengan karyanya yakni At Thabaqatul kubra.
g. Ilmu Bumi
1) Ibnu batuta (Afrika
utara ,1304 – 1378 M), menjelajai bumi dengan berjalan kaki,karyanya yakni
monumental yakni Tuhfa An Nusus fi Garaibi al Amsar wa ajaib al asar (Mutiara
teks dalam keajaiban perkataan ulama).
2) Ahmad bin Fadlan, karyanya
yakni Rihla ibnu fadlan.
h. Ilmu tasawuf
1) Al gazali ( 450 –
505 H / 1058 -19 desember 1111 M ),karyanya antara lain kitab maqasid al
– falasyfah (tujuan para filosof) dan ihya ulum ad din ( Menghidupkan
ilmu – ilmu agama ).
2) Al Hallaj ( Iran, 244 H
/ 858 M, Baghad,24 Zulkaida 309 H / 26 maret 922 M ) Ajaranya yang
terkenal yakni hulul.
i. Ilmu Fikih
1) Imam Malik (
madinah, 94 H / 769 M, Madinah,179 H / 795 M ) kitab fikih karangan beliau
yakni Al muwata.
2) Imam Hanafi ( Kufah, 80
H / 699 M – Baghad, 150 H / 767 M) karyanya
yang terkenal yakni Al fara`id ( bagian-bagian ).
3) Imam Syafi`I ( Gaza,
150 H / 767 M-Fustat, cairo, 204 H, 20 januari 820 M ) karya – karya terkenal
beliau antara lain ar risalah ( ilmi – ilmu ushul fikih ) dan buku al Umm ( buku induk ).
4) Imam Hambali ( Baghad,
164 /780 M-241 H/855M )kitabnya di beri nama Musnad.
j. Ilmu Tafsir pada masa ini terdiri dari
1) Tafsir bil Ma`tsur,
yaitu Al Qur`an yang di tafsirkan dengan hadits – hadits. Ulama _ulama tafsir
ini adalah :Ibnu Jarir At thabary , Ibnu Atahiyah al andalusi, as suda.
2) Tafsir bir Ro`yi, yaitu
Tafsir Al Qur`an dengan menggunakan akal pikiran,Ulama-ulama tafsir ini antara
lain : Abu bakar asam,Abu muslim Muhammad ibnu bahar al Ishafani,Ibnu jaru Al
asdy dan abu yunus Darussalam.
k. Ilmu Hadits
1) Imam Al bukhari (
Bukhara, 194 H – Baghad, 256 H ),karya terkenal beliau yakni Al jami`ush shahih
yang di kenal dengan nama “ shahih al Bukhari “.
2) Imam Muslim (
wafat tahun 261 H ),karyanya yang terkenal yakni “ shahih Muslim “.
3) Ibnu Majah ( wafat tahun
273 H ),karya terkenal beliau yaitu “ sunan Ibnu majah “.
4) Abu Daud ( wafat tahun
275 H ),karya terkenal beliau yaitu “ sunan Abu daud “.
5) An nasa`I ( 2184 H –
303 H ),karya beliau yang terkenal yaitu “ Sunan An nasa`I “.
6) At Turmadzi, karyanya
terkenal yaitu “ sunan At Turmudzi.
l. Ilmu kalam
1) Jabariyah, tokohnya
zahm bin sofyan,ya`du bin dirhan.
2) Qodariyah,tokohnya
ghilan Al Dhimasyah,Ma`bad Al juhaini.
3) Mu`tazilah, tokohnya washil bin atha
4) Ahlus sunnah, tokohnya
Abu hasan Al asy`ari, Al Ghozali.
m. Ilmu Bahasa
1) Sibawaihi ( wafat tahun
183 H )
2) Al kisai ( wafat tahun
198 H )
3) Abu Zakariya Al Fara (
wafat tahun 208 H)
4.
Dalam bidang Peradaban
Masa Abbasiyah menjadi tonggak
puncak peradaban Islam. Khalifah-khalifah Bani Abbasiyah secara terbuka
mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan dengan mendatangkan naskah-naskah
kuno dari berbagai pusat peradaban sebelumnya untuk kemudian diterjemahkan,
diadaptasi dan diterapkan di dunia Islam. Para ulama’ muslim yang ahli dalam
berbagai ilmu pengetahuan baik agama maupun non agama juga muncul pada masa
ini. Pesatnya perkembangan peradaban juga didukung oleh kemajuan ekonomi yang menjadi penghubung dunia timur dan barat. Stabilitas politik
yang relatif baik terutama pada masa Abbasiyah awal ini juga menjadi pemicu
kemajuan peradaban Islam.
5. Perkembangan Ekonomi
Ekonomi Abbasiyah digerakkan oleh
perdagangan. Sudah terdapat berbagai macam industri seperti kain linen di
mesir, sutra dari syiria dan irak, kertas dari samarkand, serta berbagai produk
pertanian seperti gandum dari mesir dan kurma dari iraq. Hasil-hasil industri
dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan
Negara lain.
Karena industralisasi yang muncul di perkotaan ini,
urbanisasi tak dapat dibendung lagi. Selain itu, perdagangan barang tambang
juga semarak. Emas yang ditambang dari Nubia dan Sudan Barat melambungkan
perekonomian Abbasiyah.
Perdagangan dengan wilayah-wilayah
lain merupakan hal yang sangat penting. Secara bersamaan dengan kemajuan Daulah
Abbasiyah, Dinasti Tang di Cina juga mengalami masa puncak kejayaan sehingga
hubungan erdagangan antara keduanya menambah semaraknya kegiatan perdagangan
dunia.
6. Gerakan penerjemahan
Meski
kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak Daulah Umayyah, upaya untuk
menerjemahkan dan menskrinsip berbahasa asing terutama bahasa yunani dan Persia
ke dalam bahasa arab mengalami masa keemasan pada masa DaulahAbbasiyah. Para
ilmuandiutus ke daeah Bizantium untuk mencari naskah-naskah yunanidalam
berbagai ilmu terutama filasafat dan kedokteran. Sedangkan perburuan manuskrip
di daerah timur seperti Persia adalah terutama dalam bidang tata Negara dan
sastra.
Pelopor gerakan penerjemahan pada awal pemerintahan
daulah Abbasiyah adalah Khalifah Al-Mansyur yang juga membangun Ibu kota
Baghdad. Pada awal penerjemahan, naskah yang diterjemahkan terutama dalambidang
astrologi, kimia dan kedokteran. Kemudiannaskah-naskahfilsafat karya
Aristoteles dan Plato juga diterjemahkan. Dalam masa keemasan, karya yang
banyak diterjemahkan tentang ilmu-ilmu pramatis seperti kedokteran. Naskah
astronomi dan matematika juga diterjemahkan namun, karya-karya berupa puisi,
drama, cerpen dan sejarah jarang diterjemakan karena bidang ini dianggap kurang
bermanfa’at dan dalam hal bahasa,arab sendiri perkembangan ilmu-ilmu ini sudah
sangat maju.
-
Baitul hikmah
Baitul
hikmah merupakan perpustakaan yangberfungsi sebagai pusat pengembagan ilmu
pengetahuan.
-
Pada masa harun ar-rasyid
Institusi ini bernama Khizanahal-Hikmah
(Khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat
penelitian.
-
Pada masa al-ma’mun
Lembaga ini dikembangkan sejak tahun
815 M dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah, yang dipergunakan secara
lebihmaju yaitu sebagaitempatpenyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari
Persia, Bizantium, dan bahkan dari Ethiopia dan India. Direktur perpustakaannya
seorang nasionalis Persia dan ahli pahlewi, Sahl Ibn Harun. Di bawah kekuasaan
Al-Ma’mun, lembaga ini sebagai perpustakaan juga sebagai pusat kegiatan study
dan riset astronomi dan matematika.
D. Sebab-Sebab Kemunduran dan Kehancuran Bani Abasiyyah
1.
Keruntuhan dari segi internal ( dari
dalam )
a. Mayoritas kholifah Abbasyiah periode akhir lebih
mementingkan urusan pribadi dan melalaikan tugas dan kewajiban mereka terhadap
negara.
b. Luasnya wilayah kekuasaan kerajaan Abbasyiah,
sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukuan.
c. Semakin kuatnya pengaruh keturunan Turki,
mengakibatkan kelompok Arab dan Persia menaruh kecemburuan atas posisi mereka.
d. Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata
ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
e. Permusuhan antar kelompok suku dan kelompok agama.
f. Merajalelanya korupsi dikalangan pejabat kerajaan.
g. Fanatisme pada golongan dan suku.
2.
Keruntuhan
dari segi eksternal (dari luar)
a. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang dan
menelan banyak korban.
b. Penyerbuan Tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan
yang menghancrkan Baghdad. Jatuhnya Baghdad oleh Hukagu Khan menanndai
berakhirnya kerajaan Abbasyiah dan muncul: Kerajaan Syafawiah di Iran, Kerajaan
Usmani di Turki, dan Kerajaan Mughal di India.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dinamakan
khilafah bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasanya adalah keturunan al
Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Saffah
ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas.
Pada periode
pertama pemerintahan bani Abbas mencapai masa keemasannya.Secara politis,
khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan
agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat
tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan
filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir
pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik meskipun filsafat
dan ilmu ilmu pengetahuan terus berkembang.
Pada mulanya
ibu kota negera adalah al-Hasyimiyah dekat kufah. Namun untuk lebih memantapkan
dan menjaga setabilitas Negara al-Mansyur memindahkan ibu kota Negara ke
Bagdad.
Dengan
demikian pusat pemerintahan dinasti Abasiyah berada di tengah-tengah bangsa
Persia. Al-Mansyur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia
mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan
yudikatif. Dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai
koordinator departemen, dia juga menbentuk protokol Negara, sekertaris, dan
kepolisian Negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Jawatan pos yang
sudah ada ditingkatkan peranannya dari mengatar surat sampai menghimpun seluruh
informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan
lancar.
Puncak
perkembangan dinasti Abbasiyah tidak seluruhnya berawal dari kreatifitas
penguasa Bani Abbasiyah sendiri. Sebagian diantaranya sudah dimulai sejak awal
kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan misalnya di awal Islam, lembaga
pendidikan sudah mulai berkembang. Namun lembaga-lembaga ini kemudian
berkembang pada masa pemerintahan Bani Abas dengan berdirinya perpustakaan dan
akademi.
Tokoh-tokoh
terkenal dalam bidang filsafat antara lain al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu
Rusyd. Al-Farabi menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan,
etika, dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibnu Sina juga banyak
mengarang buku tentang filsafat diantaranya adalah As-Syifa'.
B. Analisis
Dari
penjelasan di atas kita sebagai umat Islam dapat mengambil pelajaran. Sebuah
sistem yang teratur akan menghasilkan pencapaian tujuan yang maksimal, seperti
kisah pendirian dinasti Abbasiyah. Mereka bisa mendirikan dinasti di dalam
sebuah negara yang dikuasai suatu dinasti yang menomorduakan mereka. Selain itu
dari sejarah kekuasaan dinasti Abbasiyah ini kita juga bisa mengambil manfaat
yang bisa kita rasakan sampai saat ini, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan.
Seharusnya kita yang hidup pada zaman modern bisa meneruskan perjuangan para
ilmuwan zaman daulah Abbasiyah dahulu.
Sebaliknya,
kita juga dapat belajar dari kekurangan-kekurangan yang ada pada dinasti besar
ini agar tidak sampai terjadi pada diri kita dan anak cucu kita. Mereka telah
dibutakan oleh kekuasaan, sehingga mereka tega membantai hampir seluruh
keluarga dinasti Umayyah yang notabenya adalah sesama umat Islam. Selain itu
kecerobohan yang terjadi pada masa dinasti Umayyah terulang lagi pada masa
dinasti Abbasiyah yang menyebabkan runtuhnya kekuasaan dinasti Abbasiyah.
Kebiasaan penguasa berfoya-foya menyebabkan runtuhnya kekuasaan yang telah
susah payah mereka dirikan.
C.
Saran
Semoga makalah ini bisa di bahas dan
di pelajari serta menjadi suatu motivasi belajar yang mendorong mahasiswa untuk
membaca dan sekaligus memahami isi dari makalah, dan kepada kita selaku
penyusunnya supaya bisa bermanfaat di kemudian hari.
DAFTAR
PUSTAKA
Ali,
1996. Sejarah Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Mufrodi,
Ali, 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Surabaya : Logos Wacana
Ilmu.
Thohir,
Ajid, 2004. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
Syalabi,
1997. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta : PT Alhusna Zikra.
Yatim,
Badri, 2003. Sejarah Perdaban Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
[10] Istianah Abubakar, Strategi
Peradaban Islam Untuk Perguruan Tinggi Islam Dan Umum (Malang: UIN
Malang Press 2008) 71
[11] Suluk Lembayunk, Peradaban Islam
Pada Masa Dinasti Abbasiyah (http:///www.blog.html, diakses pada tanggal 19 Oktober
2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar